fbpx

Arahan Sultan HB X dalam Pembukaan Rakerda : Pramuka DIY Bisa Inisiasi Gerakan Sosial “Manunggaling Pramuka lan Warga”

Foto : Istimewa

KWARDA DIY – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Ka Mabida) Gerakan Pramuka DIY menyampaikan arahan pada pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Tahun 2022 Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, Sabtu (12/03/2022).

Gubernur DIY mengawali arahannya menyebutkan bahwa setelah melewati pandemi selama kurang lebih dua tahun, kini saatnya Gerakan Pramuka Kwarda DIY bersiap untuk terlibat aktif dalam mempersiapkan “post-pandemic era”, dengan ditunjang lelaku “Mangasah Mingising Budhi”, “Golong Gilig” dan “Etos Gumregah” khas Yogyakarta.

Gerakan Pramuka harus menjadi Change Maker. Yaitu yang mampu mengambil tindakan kreatif untuk memecahkan permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat. Gerakan Pramuka DIY diharapkan dapat menjadi sebuah wadah inovasi, sekaligus menjadi lokomotif pemberdayaan masyarakat.

“Sebagai entitas yang mayoritas dihuni generasi muda, Pramuka perlu belajar berbagai hal baru yang diprediksi akan menjadi tonggak recovery dari pandemi, serta mewujudkan tatanan post-pandemic yang lebih manusiawi dan berkeadilan,” ujar Ka Mabida DIY.

Kak Sultan Hamengku Buwono (HB) X merujuk pada kegiatan seminar UNDP yang bertajuk pemberdayaan pemuda, dapat ditarik sebuah konklusi, bahwa pemuda harus dibekali berbagai skill dan tata nilai keterampilan mutakhir, keterampilan digital yang andal, dan perluasan ekosistem yang mendukung optimalisasi potensi pemuda, semisal membentuk inkubator bisnis berbasis komunitas .

“Pepatah kuno mengatakan “iuventuti nil arduum”, tidak ada hal yang sulit bagi para pemuda,” tegas Kak Sultan HB X

Untuk itulah, sambung Kak Sultan HB X, Gerakan Pramuka diharapkan menjadi sebuah medium sambung-rasa, dilanjutkan aksi sambung-karya. Gerakan Pramuka DIY diharapkan dapat menginisiasi berbagai gerakan, dengan mempelajari demografi pemuda dan menyelami kebutuhan pemuda yang sesungguhnya.

“Itulah inti dari “Mangasah Mingising Budhi”, belajar untuk peka terhadap situasi, “nyandra kahanan”, dan kemudian menentukan opsi dan solusi untuk turut menyelesaikan berbagai masalah sosial di masyarakat,” terangnya.

Dalam arahannya pada Rakerda Tahun 2022 Kwarda DIY kali ini, Kak Sultan HB X juga menyebutkan bahwa “Without networking, you will mean nothing”. Hal tersebut menegaskan, bahwa tanpa kerjasama, sinergi, atau kolaborasi, maka segala potensi tidak akan berarti.

Menurutnya, Pramuka harus berinisiatif menggalang sebuah gerakan sosial “Manunggaling Pramuka lan Warga”, dengan melibatkan unsur potensial lain. Misalnya Pramuka merintis kolaborasi pentahelix yang meramu sinergitasnya dengan melibatkan pemerintah—sebagai pemilik political power, akademisi—sebagai pemilik knowledge power, dunia usaha—sebagai pemilik economic power, masyarakat—sebagai social control, dan media—sebagai pemilik information power.

Renaisans, Jogja Gumregah, Jogja Istimewa dapat menjadi wahana penggerak masyarakat menuju ke peningkatan dimensi nilai, pencarian nilai-nilai kebenaran, dimensi ekonomi terkait nilai kegunaan, dimensi sosial pada nilai “trust”, dimensi keagamaan, dan nilai ketuhanan yang berkebudayaan.

“Jelas sudah, “Jogja Gumregah” bukanlah ”kata benda” dan sekadar “wacana”, tetapi harus menjadi “kata kerja” yang berlanjut dalam “aksi” untuk mewujudkannya,” tegasnya.

Sebagai bentuk implementasi dari Jogja Gumregah, Gerakan Pramuka DIY dapat menjadi inisiator dan partisipan dalam berbagai kegiatan. Berdayakan seluruh potensi dalam prinsip depan-tengah-belakang, selayaknya trilogi “social movement”: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”.

“Pramuka harus siap berperan sebagai apapun, sejauh itu memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak menerobos batas regulasi, norma, maupun budaya,” tandas Ka Mabida DIY.

Terkait dengan substansi Rakerda, Ka Mabida DIY menyebutkan bahwa Rakerda Kwarda DIY adalah forum evaluasi program kerja tahun lalu untuk ancangan program ke depan. Untuk itu, materinya harus bisa menjawab tantangan saat ini dan berbagai prediksinya tahun depan yang diperkirakan masuk dalam fase pemulihan situasi “post-pandemic”.

Ditegaskan oleh Ka Mabida DIY bahwa Pramuka harus rajin, terampil dan produktif. Selain itu juga harus dapat membuktikan bahwa melalui kepramukaan bisa menghasilkan karya nyata, berkontribusi kepada masyarakat, dan meraih prestasi.

Dalam kegiatannya, agar Pramuka tidak terjebak sekadar formalitas “gimmick artificial” semata. Usai penyelenggaraan Rakerda, para aktivis harus terjun langsung di lapangan merealisir Program Kerja keputusan Rakerda.

“Jika demikian, maka Pramuka adalah change maker sesungguhnya,” tegasnya.

Pramuka, lanjut Ka Mabida, harus menerapkan budaya “open minded” agar cakrawala pemikiran selaras dengan dinamika riil yang terjadi di masyarakat. Hal ini menuntut “social skill”, ditunjang “collaboration and networking skill” agar segenap anggota Pramuka andhap asor, berbudi pekerti dan selalu membumi.

“Tentu kita tidak boleh lupa, bahwa warna seragam kebanggaan Pramuka mencerminkan esensi tanah sebagai salah satu unsur utama penghidupan di semesta ini,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Ka Mabida menyampaikan selamat melaksanakan Rakerda Tahun 2022 Kwarda DIY yang mengusung tema Perkuat Peran Seluruh Komponen Kwartir Daerah Dalam Mewujudkan Generasi Unggul Berkarakter Dan Berbudaya Tonggak Kokohnya Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut. (*/pan)

Kak Pandu
Suka menulis dan mewartakan tentang Pramuka, Teknologi, Musik, juga belajar mencipta puisi.